Jumat, 31 Oktober 2014

Kesendirian tak berujung (Part1)

      Terik panas matahari di tengah lapangan tidak membuat Dimas lantas bermalas-malasan untuk latihan rutin yang menjadi menu wajib dalam kesehariannya. Jadwal latihan dalam sepekan tersusun dengan sangat rapi. Liona senang Dimas tetap ingat tentangnya di sela kesibukan Dimas yang padat merayap. Sempat-sempatnya Dimas membuat rencana. Oleh karena itu setelah sekian lama akhirnya mereka akan pergi kencan, tapi Liona harus sabar menunggu sampai Dimas selesai latihan. Sebagian besar siswa telah pulang dan sekolah tampak sepi. Walau sangat membosankan hanya menunggu di luar lapangan, asalkan dapat menghabiskan waktu bersama dengan Dimas bagi Liona sudah cukup. Lagi pula Liona tidak ingin membuang waktu dengan berkeluh kesah di saat kebersamaan mereka yang jarang karena kesibukan Dimas.
Dimas adalah seorang bintang lapangan hijau. Pihak sekolah merencanakan Dimas untuk ikut pelatihan profesional tahun depan. Kini masa-masa di mana Dimas merajut impiannya. Liona mendukung sepenuh hati. Liona sangat-sangat tahu bagaimana Dimas berjuang sampai ke sini. Tinggal selangkah lagi Dimas menuju impiannya. Di mata Liona saat ini Dimas bagai burung yang mengepakkan sayapnya di langit biru. Andai Liona dapat ikut terbang bersama Dimas, fikirnya. Selalu dan selalu fikiran itu datang di benak Liona, fikiran tentang apa yang Liona lakukan? Untuk apa Liona di sini?  Hati Liona lelah, entah lelah karena apa. Ada sesuatu yang salah tapi entah di mana letak kesalahan itu, walau Liona mencari tidak pernah menemukan jawaban. Dan pada akhirnya yang tersisa hanya tinggal Liona seorang diri.
“Hei, serius banget. Ada yang kamu pikirkan?” Dimas datang dari arah di luar jangkau pandangan Liona.
Karena begitu terlarut dalam pemikirannya, Liona tidak menyadari kehadiran Dimas. “Ah, tidak kok.”
“Hmm..” Dimas menatap Liona menelisik.
“Em, latihannya udah selesai?” Liona coba mengalihkan topik seraya memberi botol minuman yang sengaja disediakannya untuk Dimas.
“Yup. Sori, lama ya?” Dimas duduk mengambil tempat di sebelah Liona. Membuka tutup botol lalu meneguk isinya. Tidak ketinggalan juga Liona berikan handuk untuk menyeka keringat Dimas.
“Tidak, aku senang kita bisa pergi bersama tapi apa kamu tidak kecapean Dimas? Kalau kamu tidak keberatan aku ingin kamu menemaniku sampai jam malam.” Pinta Liona.
“Siap! Aku tidak apa-apa kok. tapi tunggu, kamu bukan lagi tidak ingin pulang ke rumah ‘kan? Apa ada masalah?”
Ah Liona salah bicara, harus mencari alasan. “Tidak ada, hanya ‘kan sudah lama kita tidak jalan keluar. Tidak apa ya? Hehe..”
Dalam hati Liona memohon maaf pada Dimas. Maaf karena selalu berulang kali membohonginya. Hal yang sudah Liona putuskan untuk tidak diceritakan akan Liona simpan sendiri. Meski orang itu Dimas sekali pun, Liona tidak ingin menceritakannya. Bukan tidak mempercayai Dimas atau Liona mengabaikan keberadaannya. Tapi karena itu adalah Dimas maka Liona semakin tidak bisa menceritakannya. Mungkin nanti, suatu saat nanti. Saat di mana Dimas meninggalkan Liona ketika Dimas tahu inilah Liona, dirinya yang dipenuhi kebohongan. Bukan berarti Liona yang bersama Dimas, diri Liona yang Dimas kenal adalah sebuah kepalsuan. Liona hanya ingin saat bersama Dimas Liona bisa melupakan semua masalah, bisa bebas dan lepas walau hanya untuk sejenak. Karena ketika Liona kembali ke rumah, kehampaan itu kembali menyelubunginya.
Rumah yang sunyi-sepi selalu menyambut kepulangan Liona, hanya Liona dan benda-benda mati. Bagaimana bisa seseorang hidup seperti ini?! Nyatanya bisa, contohnya Liona. Asalkan rumah ini beratap, berdinding, berpintu plus dengan kunci serepnya. Ada bahan makanan dan air, juga mungkin credit card. Liona tetap hidup dan kini 16 tahun usianya. 16 tahun?! Entah bagaimana Liona melewati waktu selama 16 tahun dalam hidupnya, Liona tidak ingat. Mungkin Liona amnesia? Kehilangan sebagian memori ingatannya. Rasanya tidak, lebih tepat Liona tidak ingin mengingatnya.
Liona melangkah ke dapur, makan malam telah tersaji di meja. Walau Liona belum makan malam dan perutnya lapar sekali tapi sungguh Liona tidak berselera. Di rumah yang kosong dan dingin ini jika Liona makan seorang diri, Liona merasa menjadi bagian dari kehampaan ini. Lagi pula ini sudah lewat jam 8 malam. Tampaknya Ibu lembur lagi di kantor. Sebagai karyawati sebuah kantor besar Ibu sudah cukup sibuk dengan pekerjaan. Saat kembali ke rumah langsung memilih beristirahat di kamar karena kelelahan bekerja. Bukan Liona mengeluh, kesepian atau ingin diperhatikan. Toh Liona sudah terbiasa seperti ini, Liona mengerti keadaan Ibu maka tidak pernah mengatakan semua yang dirasakannya, hal yang Liona pikirkan, apa yang dia inginkan. Tidak pernah dan tidak bisa, entah sejak kapan Liona jadi seperti ini. Sudahlah, sebaiknya Liona kunci pintu terlebih dahulu dan kembali ke kamar untuk mengerjakan tugas.
Perut yang kosong Liona ganjal dengan cemilan ringan di sela mengerjakan tugas. Bukan kebiasaan Liona seperti ini tapi cara ini efektif untuk menunda lapar. Sekitar pukul 09.00 malam tugas Liona selesai juga. Buku-buku dan peralatan lain langsung Liona masukkan ke dalam tas agar besok tidak terlupa dan tinggal bawa saja. Liona turun ke bawah untuk mengambil minum karena kerongkongannya terasa haus sekali. Selagi menuruni tangga, telepon berdering. Liona tidak berniat mengangkat telepon, biarlah orang yang menelepon meninggalkan pesan jika memang penting. Liona tetap dengan tujuannya mengambil minum, berjalan ke arah dapur.
“Kring.. Kring..” nada panggilan telepon masuk.
“Piiip..” Karena disetting, mesin penjawab telepon yang menerima.
“Ibu aku sudah sampai di rumah. Sepertinya tidak ada orang di rumah karena tidak ada yang mengangkat telepon. Hari ini terima kasih untuk makan malamnya. Titip salam untuk kakak ya. Nanti aku telepon lagi.”
“Piiip.. Pip pip..” Pesan suara berakhir.
Sayang sekali makanan yang sudah disiapkan Bibi tidak ada yang makan. Ibu sudah makan di luar dengan Putri. Apa boleh buat, akan Liona makan meski hanya sedikit. Rasa masakan Bibi tidak perlu diragukan lagi, enak seperti biasa. Tapi makanannya sudah dingin, sedingin hati Liona. Atau itu hanya perasaannya saja karena sepertinya lantai rumah juga menjadi dingin. Mungkin hari ini Liona terlalu lelah. Sebaiknya Liona cepat selesaikan makan dan pergi tidur saja.
Orang tua Liona bercerai ketika ia SMP, Putri 9 tahun saat itu. Putri adalah adik perempuan Liona yang terpaut beda usia tiga tahun lebih muda darinya. Setelah Ibu dan Ayah berpisah, Liona putuskan untuk ikut bersama Ibu. Bagi Liona perceraian adalah jalan terbaik dari pada setiap hari Liona harus melihat dan mendengar pertengkaran di rumah. Sungguh masa-masa suram itu tidak dapat Liona lupakan sejak usianya 7 tahun. Sepanjang tahun pertengakaran itu terus dan terus berulang tanpa akhir. Sedangkan Putri yang sedari awal tidak setuju Ayah dan Ibu berpisah, tidak ingin memilih siapa pun. Perebutan hak asuh atas Putri terjadi di pengadilan, membutuhkan waktu panjang karena Ayah dan Ibu tidak ada yang mau mengalah sampai akhirnya hak asuh jatuh pada Ayah. Mungkin ibu tidak menang karena di pihaknya sudah ada Liona sehingga pengadilan memutuskan untuk bersikap adil versi mereka.
Setelah hidup terpisah selama 4 tahun ini, sejak perceraian Liona hanya sesekali bertemu Putri. Waktu dan jarak bukanlah alasan. Liona banyak berpikir, tentang segala hal. Manusia itu selama masih hidup jika ada keinginan untuk saling bertemu sejauh apa pun itu bukan suatu hal yang tidak mungkin. Ikatan antar manusia pun selama apa pun waktu berlalu jika saling menjaga akan tetap terikat kuat meski ajal memisahkan. Tapi jika tidak ada semua itu, maka inilah yang terjadi. Liona dan Ibu tinggal dalam satu atap tapi mereka menjalani hidup masing-masing. Di antara mereka selalu berselisih waktu yang menghasilkan jarak tidak terlihat. Dinding tembok pembatas semakin tinggi dan tebal, entah Liona atau Ibu yang membuat dinding itu. Hal yang Liona tahu pasti, tidak ada salah satu dari mereka yang berniat menghancurkannya. Dan sampai kini dinding itu tetap berdiri kokoh.

Liona matikan lampu kamar dan naik ke atas tempat tidur, tangannya meraih selimut siap untuk tidur. Sayup-sayup Liona mendengar suara mesin mobil dari luar, sepertinya Ibu pulang. Sesaat sebelum kesadaran Liona hilang, pintu kamarnya terbuka. Seseorang berdiri di ambang pintu, tak lama kemudian pintu tertutup lagi.