Terik panas matahari di tengah
lapangan tidak membuat Dimas lantas bermalas-malasan untuk latihan rutin yang
menjadi menu wajib dalam kesehariannya. Jadwal latihan dalam sepekan tersusun
dengan sangat rapi. Liona senang Dimas tetap ingat tentangnya di sela kesibukan
Dimas yang padat merayap. Sempat-sempatnya Dimas membuat rencana. Oleh karena
itu setelah sekian lama akhirnya mereka akan pergi kencan, tapi Liona harus
sabar menunggu sampai Dimas selesai latihan. Sebagian besar siswa telah pulang
dan sekolah tampak sepi. Walau sangat membosankan hanya menunggu di luar
lapangan, asalkan dapat menghabiskan waktu bersama dengan Dimas bagi Liona
sudah cukup. Lagi pula Liona tidak ingin membuang waktu dengan berkeluh kesah
di saat kebersamaan mereka yang jarang karena kesibukan Dimas.
Dimas adalah seorang bintang
lapangan hijau. Pihak sekolah merencanakan Dimas untuk ikut pelatihan
profesional tahun depan. Kini masa-masa di mana Dimas merajut impiannya. Liona
mendukung sepenuh hati. Liona sangat-sangat tahu bagaimana Dimas berjuang
sampai ke sini. Tinggal selangkah lagi Dimas menuju impiannya. Di mata Liona
saat ini Dimas bagai burung yang mengepakkan sayapnya di langit biru. Andai
Liona dapat ikut terbang bersama Dimas, fikirnya. Selalu dan selalu fikiran itu
datang di benak Liona, fikiran tentang apa yang Liona lakukan? Untuk apa Liona
di sini? Hati Liona lelah, entah lelah
karena apa. Ada sesuatu yang salah tapi entah di mana letak kesalahan itu,
walau Liona mencari tidak pernah menemukan jawaban. Dan pada akhirnya yang
tersisa hanya tinggal Liona seorang diri.
“Hei, serius banget. Ada yang
kamu pikirkan?” Dimas datang dari arah di luar jangkau pandangan Liona.
Karena begitu terlarut dalam
pemikirannya, Liona tidak menyadari kehadiran Dimas. “Ah, tidak kok.”
“Hmm..” Dimas menatap Liona
menelisik.
“Em, latihannya udah selesai?”
Liona coba mengalihkan topik seraya memberi botol minuman yang sengaja
disediakannya untuk Dimas.
“Yup. Sori, lama ya?” Dimas
duduk mengambil tempat di sebelah Liona. Membuka tutup botol lalu meneguk
isinya. Tidak ketinggalan juga Liona berikan handuk untuk menyeka keringat Dimas.
“Tidak, aku senang kita bisa
pergi bersama tapi apa kamu tidak kecapean Dimas? Kalau kamu tidak keberatan
aku ingin kamu menemaniku sampai jam malam.” Pinta Liona.
“Siap! Aku tidak apa-apa kok.
tapi tunggu, kamu bukan lagi tidak ingin pulang ke rumah ‘kan? Apa ada
masalah?”
Ah Liona salah bicara, harus
mencari alasan. “Tidak ada, hanya ‘kan sudah lama kita tidak jalan keluar.
Tidak apa ya? Hehe..”
Dalam hati Liona memohon maaf
pada Dimas. Maaf karena selalu berulang kali membohonginya. Hal yang sudah Liona
putuskan untuk tidak diceritakan akan Liona simpan sendiri. Meski orang itu
Dimas sekali pun, Liona tidak ingin menceritakannya. Bukan tidak mempercayai
Dimas atau Liona mengabaikan keberadaannya. Tapi karena itu adalah Dimas maka
Liona semakin tidak bisa menceritakannya. Mungkin nanti, suatu saat nanti. Saat
di mana Dimas meninggalkan Liona ketika Dimas tahu inilah Liona, dirinya yang
dipenuhi kebohongan. Bukan berarti Liona yang bersama Dimas, diri Liona yang
Dimas kenal adalah sebuah kepalsuan. Liona hanya ingin saat bersama Dimas Liona
bisa melupakan semua masalah, bisa bebas dan lepas walau hanya untuk sejenak.
Karena ketika Liona kembali ke rumah, kehampaan itu kembali menyelubunginya.
Rumah yang sunyi-sepi selalu
menyambut kepulangan Liona, hanya Liona dan benda-benda mati. Bagaimana bisa
seseorang hidup seperti ini?! Nyatanya bisa, contohnya Liona. Asalkan rumah ini
beratap, berdinding, berpintu plus dengan kunci serepnya. Ada bahan makanan dan
air, juga mungkin credit card. Liona tetap hidup dan kini 16 tahun usianya. 16
tahun?! Entah bagaimana Liona melewati waktu selama 16 tahun dalam hidupnya,
Liona tidak ingat. Mungkin Liona amnesia? Kehilangan sebagian memori
ingatannya. Rasanya tidak, lebih tepat Liona tidak ingin mengingatnya.
Liona melangkah ke dapur,
makan malam telah tersaji di meja. Walau Liona belum makan malam dan perutnya
lapar sekali tapi sungguh Liona tidak berselera. Di rumah yang kosong dan
dingin ini jika Liona makan seorang diri, Liona merasa menjadi bagian dari
kehampaan ini. Lagi pula ini sudah lewat jam 8 malam. Tampaknya Ibu lembur lagi
di kantor. Sebagai karyawati sebuah kantor besar Ibu sudah cukup sibuk dengan
pekerjaan. Saat kembali ke rumah langsung memilih beristirahat di kamar karena
kelelahan bekerja. Bukan Liona mengeluh, kesepian atau ingin diperhatikan. Toh
Liona sudah terbiasa seperti ini, Liona mengerti keadaan Ibu maka tidak pernah
mengatakan semua yang dirasakannya, hal yang Liona pikirkan, apa yang dia
inginkan. Tidak pernah dan tidak bisa, entah sejak kapan Liona jadi seperti
ini. Sudahlah, sebaiknya Liona kunci pintu terlebih dahulu dan kembali ke kamar
untuk mengerjakan tugas.
Perut yang kosong Liona ganjal
dengan cemilan ringan di sela mengerjakan tugas. Bukan kebiasaan Liona seperti
ini tapi cara ini efektif untuk menunda lapar. Sekitar pukul 09.00 malam tugas
Liona selesai juga. Buku-buku dan peralatan lain langsung Liona masukkan ke
dalam tas agar besok tidak terlupa dan tinggal bawa saja. Liona turun ke bawah
untuk mengambil minum karena kerongkongannya terasa haus sekali. Selagi
menuruni tangga, telepon berdering. Liona tidak berniat mengangkat telepon,
biarlah orang yang menelepon meninggalkan pesan jika memang penting. Liona
tetap dengan tujuannya mengambil minum, berjalan ke arah dapur.
“Kring.. Kring..” nada
panggilan telepon masuk.
“Piiip..” Karena disetting,
mesin penjawab telepon yang menerima.
“Ibu aku sudah sampai di
rumah. Sepertinya tidak ada orang di rumah karena tidak ada yang mengangkat
telepon. Hari ini terima kasih untuk makan malamnya. Titip salam untuk kakak
ya. Nanti aku telepon lagi.”
“Piiip.. Pip pip..” Pesan
suara berakhir.
Sayang sekali makanan yang
sudah disiapkan Bibi tidak ada yang makan. Ibu sudah makan di luar dengan
Putri. Apa boleh buat, akan Liona makan meski hanya sedikit. Rasa masakan Bibi
tidak perlu diragukan lagi, enak seperti biasa. Tapi makanannya sudah dingin,
sedingin hati Liona. Atau itu hanya perasaannya saja karena sepertinya lantai
rumah juga menjadi dingin. Mungkin hari ini Liona terlalu lelah. Sebaiknya
Liona cepat selesaikan makan dan pergi tidur saja.
Orang tua Liona bercerai
ketika ia SMP, Putri 9 tahun saat itu. Putri adalah adik perempuan Liona yang
terpaut beda usia tiga tahun lebih muda darinya. Setelah Ibu dan Ayah berpisah,
Liona putuskan untuk ikut bersama Ibu. Bagi Liona perceraian adalah jalan
terbaik dari pada setiap hari Liona harus melihat dan mendengar pertengkaran di
rumah. Sungguh masa-masa suram itu tidak dapat Liona lupakan sejak usianya 7
tahun. Sepanjang tahun pertengakaran itu terus dan terus berulang tanpa akhir.
Sedangkan Putri yang sedari awal tidak setuju Ayah dan Ibu berpisah, tidak
ingin memilih siapa pun. Perebutan hak asuh atas Putri terjadi di pengadilan,
membutuhkan waktu panjang karena Ayah dan Ibu tidak ada yang mau mengalah sampai
akhirnya hak asuh jatuh pada Ayah. Mungkin ibu tidak menang karena di pihaknya
sudah ada Liona sehingga pengadilan memutuskan untuk bersikap adil versi
mereka.
Setelah hidup terpisah selama
4 tahun ini, sejak perceraian Liona hanya sesekali bertemu Putri. Waktu dan
jarak bukanlah alasan. Liona banyak berpikir, tentang segala hal. Manusia itu
selama masih hidup jika ada keinginan untuk saling bertemu sejauh apa pun itu
bukan suatu hal yang tidak mungkin. Ikatan antar manusia pun selama apa pun
waktu berlalu jika saling menjaga akan tetap terikat kuat meski ajal
memisahkan. Tapi jika tidak ada semua itu, maka inilah yang terjadi. Liona dan
Ibu tinggal dalam satu atap tapi mereka menjalani hidup masing-masing. Di
antara mereka selalu berselisih waktu yang menghasilkan jarak tidak terlihat.
Dinding tembok pembatas semakin tinggi dan tebal, entah Liona atau Ibu yang
membuat dinding itu. Hal yang Liona tahu pasti, tidak ada salah satu dari
mereka yang berniat menghancurkannya. Dan sampai kini dinding itu tetap berdiri
kokoh.
Liona matikan lampu kamar dan
naik ke atas tempat tidur, tangannya meraih selimut siap untuk tidur.
Sayup-sayup Liona mendengar suara mesin mobil dari luar, sepertinya Ibu pulang.
Sesaat sebelum kesadaran Liona hilang, pintu kamarnya terbuka. Seseorang
berdiri di ambang pintu, tak lama kemudian pintu tertutup lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar