Kamis, 27 November 2014

Kesendirian tak berujung (Part2)

Akhir minggu ini Liona, Ibu dan Putri berencana makan malam bersama di luar. Sebenarnya Ayah termasuk dalam rencana namun di saat-saat terakhir Ayah menelepon. Entah sibuk atau apa, Liona tidak tahu. Yang pasti Ayah membatalkan janji, begitu yang Liona dengar dari Putri. Ibu tampaknya sudah tahu akan seperti ini, begitu juga Liona. Sedangkan Putri yang tadinya ceria mendadak tidak bersemangat. Pasti dia sudah menunggu-nunggu hari ini dan berharap banyak mereka sekeluarga dapat berkumpul setelah sekian lama. Kasihan, Putri pasti sangat kecewa.
Seorang pelayan menghampiri, ini adalah family restaurant yang tidak jauh dari rumah. Walau jarang, keluarga Liona biasa makan di sini jika makan di luar. Rasa masakan restoran ini sesuai dengan selera Ibu. Bagi Liona rasa bukan masalah. Liona nikmati saja, toh keluarga mereka jarang makan bersama. Putri terlihat tidak berselera. Melihat itu Ibu jadi berkotbah tentang Ayah beginilah-begitulah selagi mereka makan. Membuat selera makan Liona jadi hilang. Liona paling tidak suka dengan topik seperti ini. Ayah dan Ibu tidak pernah puas menjelekkan satu sama lain. Entah apa yang berusaha mereka tekankan pada pembicaraan yang tidak layak didengar oleh anak ini.
Liona muak terus-menerus diracuni dengan hal-hal yang dapat merusak hati dan pikirannya. Tidak cukupkah dengan penderitaan Liona selama ini? Sampai Ayah dan Ibu masih harus merusak diri Liona juga. Berulang kali hati Liona hancur. Mungkin kini hati Liona tidak berbentuk lagi, hitam pekat karena racun selama 9 tahun. Sedingin kutub es yang beku dan mati rasa. Bisa dibilang kini hati Liona ingin diapakan juga ia tidak perduli lagi. Liona menganggap dirinya adalah manusia yang telah jatuh dalam kegelapan, tersesat tanpa bisa menemukan arah dan tujuan. Tidak ada tempat Liona kembali selain rumah yang kosong dan dingin ini.
Gelap. Adakah seseorang di sini? Bukankah tadi Liona pergi makan malam bersama Putri dan Ibu? Kemana mereka? Liona tidak dapat melihat apa pun, di sini gelap sekali. Aneh, ini seperti.. Apa mungkin Liona sedang bermimpi? Tunggu dulu, adakah orang yang sadar dirinya bermimpi saat sedang bermimpi? Tapi Liona yakin ini pasti mimpi karena tidak mungkin Liona bisa melihat dirinya yang lain berumur 7 tahun jika Liona tidak sedang bermimpi atau Liona telah mati.
Ini adegan dalam ingatan Liona yang diputar bagai proyektor film. Keping adengan pertengkaran Ayah dan Ibu. Liona tidak ingat isi pertengkaran mereka, tapi ia ingat saat itu Putri yang berusia 4 tahun menangis keras di belakang Liona. Tangan Putri meremas ujung potongan bawah baju Liona kuat, bukan karena menahan emosi melainkan karena takut. Yang emosi saat itu Liona karena muak melihat Ayah yang memukul Ibu. Ayah dengan ringannya melayangkan tangan pada Ibu, yang kini Liona tahu itu adalah ‘Kekerasan dalam rumah tangga’. Andai Liona tahu saat itu, Liona tidak akan segan-segan melaporkan Ayah atas tuduhan melakukan KDRT. Liona yang saat itu hanya dapat melakukan tindakan sia-sia dengan berteriak meminta Ayah tidak memukuli Ibu dan menghentikan pertengkaran. Namun teriakan Liona tidak digubris. Tertelan oleh percecokan mulut antara Ayah dan Ibu.

Liona tidak takut sama sekali, sedih pun tidak. Liona merasakan kemarahan dan kebencian yang sangat amat, tapi entah mengapa air mata Liona sudah mengalir tanpa disadari. Badai pasti berlalu. Kini badai telah berlalu dan yang tersisa hanya kesunyian dalam diam. Ayah keluar rumah dan tidak kembali, sedangkan Ibu mengunci diri di kamar. Bibi yang mendengar pertengkaran dari tetangga datang dengan tergesa-gesa. Bibi kerepotan menenangkan Putri yang masih menangis, padahal ini di luar jam kerjanya. Liona mencari tempat menyendiri, tidak ada tempat spesial, cukup dengan tidak ada siapa pun yang memungkinkan untuk mengusiknya. Ya, itulah Liona. Tak ada bedanya dengan Liona yang sekarang ini. Tapi mengapa Liona bisa bermimpi kejadian yang sudah lama berlalu itu. Apa mungkin karena perkataan Ibu di restoran tadi? Liona rasa begitu. Kini Liona tidak tahu apakah ia masih bermimpi atau sudah terbangun, entahlah..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar