Akhir minggu ini Liona, Ibu
dan Putri berencana makan malam bersama di luar. Sebenarnya Ayah termasuk dalam
rencana namun di saat-saat terakhir Ayah menelepon. Entah sibuk atau apa, Liona
tidak tahu. Yang pasti Ayah membatalkan janji, begitu yang Liona dengar dari
Putri. Ibu tampaknya sudah tahu akan seperti ini, begitu juga Liona. Sedangkan
Putri yang tadinya ceria mendadak tidak bersemangat. Pasti dia sudah
menunggu-nunggu hari ini dan berharap banyak mereka sekeluarga dapat berkumpul
setelah sekian lama. Kasihan, Putri pasti sangat kecewa.
Seorang pelayan menghampiri,
ini adalah family restaurant yang tidak jauh dari rumah. Walau jarang, keluarga
Liona biasa makan di sini jika makan di luar. Rasa masakan restoran ini sesuai
dengan selera Ibu. Bagi Liona rasa bukan masalah. Liona nikmati saja, toh
keluarga mereka jarang makan bersama. Putri terlihat tidak berselera. Melihat
itu Ibu jadi berkotbah tentang Ayah beginilah-begitulah selagi mereka makan.
Membuat selera makan Liona jadi hilang. Liona paling tidak suka dengan topik
seperti ini. Ayah dan Ibu tidak pernah puas menjelekkan satu sama lain. Entah
apa yang berusaha mereka tekankan pada pembicaraan yang tidak layak didengar
oleh anak ini.
Liona muak terus-menerus
diracuni dengan hal-hal yang dapat merusak hati dan pikirannya. Tidak cukupkah
dengan penderitaan Liona selama ini? Sampai Ayah dan Ibu masih harus merusak
diri Liona juga. Berulang kali hati Liona hancur. Mungkin kini hati Liona tidak
berbentuk lagi, hitam pekat karena racun selama 9 tahun. Sedingin kutub es yang
beku dan mati rasa. Bisa dibilang kini hati Liona ingin diapakan juga ia tidak
perduli lagi. Liona menganggap dirinya adalah manusia yang telah jatuh dalam
kegelapan, tersesat tanpa bisa menemukan arah dan tujuan. Tidak ada tempat
Liona kembali selain rumah yang kosong dan dingin ini.
Gelap. Adakah seseorang di
sini? Bukankah tadi Liona pergi makan malam bersama Putri dan Ibu? Kemana
mereka? Liona tidak dapat melihat apa pun, di sini gelap sekali. Aneh, ini
seperti.. Apa mungkin Liona sedang bermimpi? Tunggu dulu, adakah orang yang
sadar dirinya bermimpi saat sedang bermimpi? Tapi Liona yakin ini pasti mimpi
karena tidak mungkin Liona bisa melihat dirinya yang lain berumur 7 tahun jika
Liona tidak sedang bermimpi atau Liona telah mati.
Ini adegan dalam ingatan Liona
yang diputar bagai proyektor film. Keping adengan pertengkaran Ayah dan Ibu.
Liona tidak ingat isi pertengkaran mereka, tapi ia ingat saat itu Putri yang
berusia 4 tahun menangis keras di belakang Liona. Tangan Putri meremas ujung
potongan bawah baju Liona kuat, bukan karena menahan emosi melainkan karena
takut. Yang emosi saat itu Liona karena muak melihat Ayah yang memukul Ibu.
Ayah dengan ringannya melayangkan tangan pada Ibu, yang kini Liona tahu itu
adalah ‘Kekerasan dalam rumah tangga’. Andai Liona tahu saat itu, Liona tidak
akan segan-segan melaporkan Ayah atas tuduhan melakukan KDRT. Liona yang saat
itu hanya dapat melakukan tindakan sia-sia dengan berteriak meminta Ayah tidak
memukuli Ibu dan menghentikan pertengkaran. Namun teriakan Liona tidak
digubris. Tertelan oleh percecokan mulut antara Ayah dan Ibu.
Liona tidak takut sama sekali,
sedih pun tidak. Liona merasakan kemarahan dan kebencian yang sangat amat, tapi
entah mengapa air mata Liona sudah mengalir tanpa disadari. Badai pasti
berlalu. Kini badai telah berlalu dan yang tersisa hanya kesunyian dalam diam.
Ayah keluar rumah dan tidak kembali, sedangkan Ibu mengunci diri di kamar. Bibi
yang mendengar pertengkaran dari tetangga datang dengan tergesa-gesa. Bibi
kerepotan menenangkan Putri yang masih menangis, padahal ini di luar jam
kerjanya. Liona mencari tempat menyendiri, tidak ada tempat spesial, cukup
dengan tidak ada siapa pun yang memungkinkan untuk mengusiknya. Ya, itulah
Liona. Tak ada bedanya dengan Liona yang sekarang ini. Tapi mengapa Liona bisa
bermimpi kejadian yang sudah lama berlalu itu. Apa mungkin karena perkataan Ibu
di restoran tadi? Liona rasa begitu. Kini Liona tidak tahu apakah ia masih
bermimpi atau sudah terbangun, entahlah..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar