Kamis, 27 November 2014

Kesendirian tak berujung (Part3)

Ibu sudah pergi bekerja sejak hari masih gelap. Liona bangun kesiangan dengan sekujur tubuh pegal-pegal. Berat sekali dan lemas, serasa habis lari maraton. Mendengar keluhan itu Bibi bilang kalau Liona demam. Bibi menyarankan agar Liona beristirahat di rumah saja, tapi hari ini Liona ada ulangan yang sangat penting di sekolah. Lebih baik Liona tetap pergi, jika memang nanti semakin parah Liona akan istirahat di UKS atau izin pulang lebih awal. Tapi apa bisa Liona sampai ke sekolah tanpa tumbang di jalan? Bibi berpikir satu langkah di depan, lebih cepat dari Liona. Tak lama kemudian taksi yang dipanggilkan Bibi datang. Sarapan tidak Liona habiskan karena tidak berselera. Sesampainya di sekolah Liona berpapasan dengan Dimas di pintu gerbang. Mereka berjalan beriringan menuju kelas.
“Liona, wajah kamu pucat? Kamu kurang sehat?”. Dimas mengukur suhu panas tubuh Liona menggunakan telapak tangannya yang ditempelkan di kening Liona.
“Iya, agak sedikit tidak enak badan.” Liona tidak ingin membuat Dimas khawatir.
“Kalau gitu kenapa tidak istirahat saja.”
“Tidak apa-apa kok, paling cuma karena semalam salah tidur. Rasanya aku mimpi aneh banget, tapi apa ya?! Lupa.” Kata Liona agak linglung.
“Kok lupa? Dasar kamu ini.” Dimas mengelus lembut rambut bagian depan Liona.
Rasanya semalam Liona memang bermimpi, sangat jelas terasa nyata. Tapi Liona tidak bisa mengingat tepatnya mimpi apa dia semalam itu. Tapi.. Ah sudahlah, toh itu hanya sebuah mimpi. Liona tidak ingin membawa permasalahan rumah ke sekolah. Inginnya sih begitu tapi ternyata sulit.
Akhir minggu ini Ibu akan dinas luar kota satu hari dua malam. Memang biasanya Ibu selalu pulang ke rumah walau larut malam, tapi tidak ada bedanya dengan Ibu tidak ada di rumah sekali pun. Apa Dimas bisa menemani Liona ya? Liona tidak ingin seharian berada di rumah itu seorang diri. Bukan arti sendiri yang tidak ada siapa-siapa selain Liona, tapi sendiri yang berarti tidak ada orang yang membutuhkannya. Jika berlama-lama di rumah yang seperti itu rasanya Liona akan tenggelam lagi dalam fikiran-fikiran gelap dirinya sendiri.
Liona tidak yakin pada dirinya sendiri, tidak dapat lagi menilai mana yang benar dan mana yang salah. Di saat seperti itu dirinya yang hilang kesadaran bisa melakukan apa pun yang bahkan tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Liona terlalu takut untuk membayangkan. Belakangan ini Liona semakin kacau, emosinya menjadi labil. Rasa marah, sedih, hampa, sakit, kecewa, gundah dan lelah silih berganti tanpa alasan. Rasanya diri Liona mulai gila. Ketidakwarasan dalam sisi diri Liona yang lain memaksa keluar dari ruang terlarang di dasar kegelapan hati Liona. Hanya tinggal menunggu waktu sampai sisi lain itu menguasai diri Liona seutuhnya. Liona tidak bisa melawan karena mungkin dia, sisi lain itulah diri Liona yang sebenarnya.
Diri Liona yang tumbuh selama 9 tahun dalam kegelapan hati, dirinya yang tidak ingin Liona akui keberadaannya. Diri Liona yang sekarang hanya sisi diri Liona yang mencoba bertahan, diri Liona yang selalu ia tegaskan ‘Aku baik-baik saja’ untuk tidak terluka lebih dari ini. Hanya dapat lari dan menghindar sehingga menciptakan jarak antara Liona dan yang lain.
Ya, jarak itu Liona yang menciptakan dan dinding itu Liona buat untuk pertahanan dirinya. Liona terlalu takut untuk terluka tapi ingin dicintai. Ingin dicintai tanpa mencintai. Mencintai hanya akan membawa luka itu sendiri. Liona bagai kepompong kosong di malam yang gelap dan dingin. Dalam diam berharap cahaya bulan sampai ke tempatnya berada. Liona ingin bulan menemukannya dalam kegelapan malam, tanpa Liona berusaha untuk dapat ditemukan sang bulan. Tapi apalah arti kepompong kosong ini? Bahkan ulat yang telah menjadi kupu-kupu pun pergi meninggalkan Liona. Jika Dimas adalah ulat yang telah menjelma menjadi kupu-kupu. Walau Dimas tidak meninggalkan Liona, tapi waktu kebersamaan mereka yang seutuhnya hanya saat jam pelajaran di kelas.
Dimas bagi Liona adalah hujan yang mengguyur kekeringan di hatinya. Persis seperi hujan saat musim kemarau panjang. Gambarannya seperti ini. Hujan penting bagi manusia, salah satu sumber air. Hujan memberi kita air tapi kita tidak bisa membalasnya memberi air. Air atau apa pun yang ingin kita berikan padanya. Begitulah Dimas bagi Liona. Liona tahu Dimas mencintainya tapi Liona bukan tidak mencintai Dimas. Hanya saja Liona tidak bisa mencintai Dimas seperti Dimas mencintai Liona. Liona tidak pernah mengatakan apa pun pada Dimas. Liona takut Dimas membencinya. Liona tidak ingin kehilangan Dimas. Maka Liona memutuskan untuk mempertahankan hubungan ini sampai Dimas sendiri yang ingin mengakhirinya.
Liona sampai di rumah dengan di antar Dimas, sayangnya Dimas harus langsung kembali ke sekolah karena dia ada latihan siang. Ternyata benar demam Liona naik setelah diukur oleh Bibi. Walau lapar tapi Liona tidak nafsu makan. Bibi sengaja membuatkan bubur untuk Liona. Terakhir kali Liona sakit seperti ini dulu juga saat Ibu sedang dinas luar kota. Kenapa ya sepertinya Liona jadi lemah di saat-saat seperti ini. Liona ingat dulu Bibi membuatkan bubur karena Liona seharian tidak mau makan sama sekali. Rasa bubur ini membuat Liona teringat saat itu. Bibi saat itu mau pun sekarang tidak berubah sedikit pun, sangat perhatian pada Liona. Dibanding Ibu yang sibuk dengan pekerjaan Liona lebih banyak melewatkan waktu bersama Bibi.

Kenapa Ibu tidak bisa sedikit saja meluangkan waktu untuk Liona. Liona tahu Ibu bukan tidak perduli padanya. Ibu bekerja keras sampai sangat-sangat lelah dan tidak memperdulikan dirinya sendiri itu demi Liona anaknya. Liona bukan tidak tahu semua itu. Liona hanya selalu bersikap tidak perduli. Ternyata memang Liona masih sangat kekanakan dan egois. Walau tahu hal itu tapi Liona tidak pernah berusaha untuk mencoba berubah karena menurut Liona itu tidak ada gunanya. Keadaan rumah ini akan tetap sama karena keluarga ini sudah hancur sampai ke akar. Liona yang terlahir sebagai anak dari rumah ini tumbuh besar dari rasa kebencian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar