Ibu sudah pergi bekerja sejak
hari masih gelap. Liona bangun kesiangan dengan sekujur tubuh pegal-pegal.
Berat sekali dan lemas, serasa habis lari maraton. Mendengar keluhan itu Bibi
bilang kalau Liona demam. Bibi menyarankan agar Liona beristirahat di rumah
saja, tapi hari ini Liona ada ulangan yang
sangat penting di sekolah. Lebih baik Liona tetap pergi, jika memang nanti
semakin parah Liona akan istirahat di UKS atau izin pulang lebih awal. Tapi apa
bisa Liona sampai ke sekolah tanpa tumbang di jalan? Bibi berpikir satu langkah
di depan, lebih cepat dari Liona. Tak lama kemudian taksi yang dipanggilkan
Bibi datang. Sarapan tidak Liona habiskan karena tidak berselera. Sesampainya
di sekolah Liona berpapasan dengan Dimas di pintu gerbang. Mereka berjalan
beriringan menuju kelas.
“Liona, wajah
kamu pucat? Kamu kurang sehat?”. Dimas mengukur suhu panas tubuh Liona
menggunakan telapak tangannya yang ditempelkan di kening Liona.
“Iya, agak
sedikit tidak enak badan.” Liona tidak ingin membuat Dimas khawatir.
“Kalau gitu
kenapa tidak istirahat saja.”
“Tidak
apa-apa kok, paling cuma karena semalam salah tidur. Rasanya aku mimpi aneh
banget, tapi apa ya?! Lupa.” Kata Liona agak linglung.
“Kok lupa?
Dasar kamu ini.” Dimas mengelus lembut rambut bagian depan Liona.
Rasanya
semalam Liona memang bermimpi, sangat jelas terasa nyata. Tapi Liona tidak bisa
mengingat tepatnya mimpi apa dia semalam itu. Tapi.. Ah sudahlah, toh itu hanya
sebuah mimpi. Liona tidak ingin membawa permasalahan rumah ke sekolah. Inginnya sih begitu tapi ternyata sulit.
Akhir minggu ini Ibu akan
dinas luar kota satu hari dua malam. Memang biasanya Ibu selalu pulang ke rumah
walau larut malam, tapi tidak ada bedanya dengan Ibu tidak ada di rumah sekali
pun. Apa Dimas bisa menemani Liona ya? Liona tidak ingin seharian berada di
rumah itu seorang diri. Bukan arti sendiri yang tidak ada siapa-siapa selain
Liona, tapi sendiri yang berarti tidak ada orang yang membutuhkannya. Jika
berlama-lama di rumah yang seperti itu rasanya Liona akan tenggelam lagi dalam
fikiran-fikiran gelap dirinya sendiri.
Liona tidak yakin pada dirinya
sendiri, tidak dapat lagi menilai mana yang benar dan mana yang salah. Di saat
seperti itu dirinya yang hilang kesadaran bisa melakukan apa pun yang bahkan
tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Liona terlalu takut untuk membayangkan.
Belakangan ini Liona semakin kacau, emosinya menjadi labil. Rasa marah, sedih,
hampa, sakit, kecewa, gundah dan lelah silih berganti tanpa alasan. Rasanya
diri Liona mulai gila. Ketidakwarasan dalam sisi diri Liona yang lain memaksa
keluar dari ruang terlarang di dasar kegelapan hati Liona. Hanya tinggal
menunggu waktu sampai sisi lain itu menguasai diri Liona seutuhnya. Liona tidak
bisa melawan karena mungkin dia, sisi lain itulah diri Liona yang sebenarnya.
Diri Liona yang tumbuh selama
9 tahun dalam kegelapan hati, dirinya yang tidak ingin Liona akui
keberadaannya. Diri Liona yang sekarang hanya sisi diri Liona yang mencoba
bertahan, diri Liona yang selalu ia tegaskan ‘Aku baik-baik saja’ untuk tidak
terluka lebih dari ini. Hanya dapat lari dan menghindar sehingga menciptakan
jarak antara Liona dan yang lain.
Ya, jarak itu Liona yang menciptakan
dan dinding itu Liona buat untuk pertahanan dirinya. Liona terlalu takut untuk
terluka tapi ingin dicintai. Ingin dicintai tanpa mencintai. Mencintai hanya
akan membawa luka itu sendiri. Liona bagai kepompong kosong di malam yang gelap
dan dingin. Dalam diam berharap cahaya bulan sampai ke tempatnya berada. Liona
ingin bulan menemukannya dalam kegelapan malam, tanpa Liona berusaha untuk
dapat ditemukan sang bulan. Tapi apalah arti kepompong kosong ini? Bahkan ulat
yang telah menjadi kupu-kupu pun pergi meninggalkan Liona. Jika Dimas adalah
ulat yang telah menjelma menjadi kupu-kupu. Walau Dimas tidak meninggalkan
Liona, tapi waktu kebersamaan mereka yang seutuhnya hanya saat jam pelajaran di
kelas.
Dimas bagi Liona adalah hujan
yang mengguyur kekeringan di hatinya. Persis seperi hujan saat musim kemarau
panjang. Gambarannya seperti ini. Hujan penting bagi manusia, salah satu sumber
air. Hujan memberi kita air tapi kita tidak bisa membalasnya memberi air. Air
atau apa pun yang ingin kita berikan padanya. Begitulah Dimas bagi Liona. Liona
tahu Dimas mencintainya tapi Liona bukan tidak mencintai Dimas. Hanya saja
Liona tidak bisa mencintai Dimas seperti Dimas mencintai Liona. Liona tidak
pernah mengatakan apa pun pada Dimas. Liona takut Dimas membencinya. Liona
tidak ingin kehilangan Dimas. Maka Liona memutuskan untuk mempertahankan
hubungan ini sampai Dimas sendiri yang ingin mengakhirinya.
Liona sampai di rumah dengan
di antar Dimas, sayangnya Dimas harus langsung kembali ke sekolah karena dia
ada latihan siang. Ternyata benar demam Liona naik setelah diukur oleh Bibi.
Walau lapar tapi Liona tidak nafsu makan. Bibi sengaja membuatkan bubur untuk
Liona. Terakhir kali Liona sakit seperti ini dulu juga saat Ibu sedang dinas
luar kota. Kenapa ya sepertinya Liona jadi lemah di saat-saat seperti ini.
Liona ingat dulu Bibi membuatkan bubur karena Liona seharian tidak mau makan
sama sekali. Rasa bubur ini membuat Liona teringat saat itu. Bibi saat itu mau
pun sekarang tidak berubah sedikit pun, sangat perhatian pada Liona. Dibanding
Ibu yang sibuk dengan pekerjaan Liona lebih banyak melewatkan waktu bersama
Bibi.
Kenapa Ibu tidak bisa sedikit
saja meluangkan waktu untuk Liona. Liona tahu Ibu bukan tidak perduli padanya.
Ibu bekerja keras sampai sangat-sangat lelah dan tidak memperdulikan dirinya
sendiri itu demi Liona anaknya. Liona bukan tidak tahu semua itu. Liona hanya
selalu bersikap tidak perduli. Ternyata memang Liona masih sangat kekanakan dan
egois. Walau tahu hal itu tapi Liona tidak pernah berusaha untuk mencoba
berubah karena menurut Liona itu tidak ada gunanya. Keadaan rumah ini akan
tetap sama karena keluarga ini sudah hancur sampai ke akar. Liona yang terlahir
sebagai anak dari rumah ini tumbuh besar dari rasa kebencian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar